Minggu, 02 Juni 2013

Budidaya Ubikayu Cara Desa Sukowilangun


     


    Ubi kayu atau ketela pohon dapat dimanfaatkan untuk keperluan pangan, pakan maupun bahan dasar industri. Hingga kini produktivitasnya masih tergolong rendah, yaitu sekitar 20 ton per hektar.Dari segi teknis produksi, penyebab penting atas rendahnya penyebab hasil produksi ubi kayu di tingkat petani adalah terbatasnya penggunaan varietas unggul, kurangnya penggunaan pupuk organik maupun an organik serta penempatan status ubi kayu sebagai bukan tanaman utama. Di desa Sukowilangun ubikayu dapat menghasilkan rata rata 80 ton per hektar ubi segar yang dipasarkan untuk industri tapioka dan sudah menembus pasar Surabaya secara kontinyu dikirim mingguan sepanjang tahun , sehingga dapat diperoleh harga yang tinggi (Rp 1.300,-/ kg bulan Januari 2012). Saat ini pengembangan areal seluas 600 ha yang bersaing ketat dengan tanaman tebu. Sehubungan dengan hal hal tersebut diatas, maka upaya peningkatan produksi ubi kayu perlu mendapatkan perhatian dari semua pihak.

TEKNOLOGI PRODUKSI UBI KAYU 




Ubi kayu untuk memperoleh hasil yang optimal sebaiknya ditanam secara monokultur karena tanaman ubi kayu pada fase pertumbuhan awal umur 5 – 10 minggu tidak mampu berkompetisi dengan gulma, sehingga pada periode kritis ini tanaman harus bebas dari gulma. 1. Penyiapan stek a. Stek diambil bagian tengah dari tanaman yang berumur tua 8-10 bulan atau 10-12 bulan sesuai varietas. b. Batang dapat digunakan stek apabila masa penyimpanannya kurang dari 30 hari setelah panen, atau pada kondisi batang masih segar. c. Panjang stek optimum adalah 20 – 25 cm, gunakan gergaji untuk memotong. d. Sebelum tanam stek dapat diperlakukan dengan insektisida atau fungisida untuk mencegah serangan hama penyakit. 2. Varietas a. Cecek Hijau , umur genjah (7 -10 bulan) kadar HCN ≥ 100 ppm, provitas 80 ton/ hektar. b. Sembung, umur dalam (12 bulan) kadar HCN ≥ 100 ppm, provitas 100 ton/ hektar. 3. Pengolalahan tanah Pengolahan tanah dapat menggunakan bajak atau dicangkul kemudian dibentuk guludan dengan jarak antar guludan 125 cm tinggi 40 cm searah kontur bila pada tanah dengan topografi miring, waktu pengolahan disesuaikan dengan memperkirakan kapan ubi kayu dipanen. 4. Penanaman a. Stek yang sudah siap ditanam dengan posisi tegak, dengan 1/4 bagian berada dibawah permukaan tanah. b. Jarak tanam yang digunakan 125 x 100 cm dalam guludan 5. Pemupukan a. Pupuk kandang diberikan pada saat pembuatan guludan 5-10 ton/ ha. b. Pupuk dasar diberikan umur 1 bulan, dengan ditugalkan pada jarak 10 -15 cm dari pangkal tanaman (100 kg Urea; 100 kg SP 36; 50 kg KCl per ha) atau 200 kg phonska. c. Pupuk ke dua diberikan pada umur 3-4 bulan setelah tanam dengan dosis 200 kg phonska. 6. Penyiangan Penyiangan dilakukan untuk menghilangkan gulma pada pase kritis yaitu 4 minggu dan 8 minggu setelah tanam, apabila pada fase tersebut tidak dilakukan penyiangan akan menurunkan hasil sampai 70%. 7. Pembubunan dan wiwil Pembubunan dilakukan untuk menggemburkan tanah. Pembubunan dilakukan pada umur 2-4 bulan pada umur ini tanaman ubikayu mulai melakukan pembentukan umbi. Sehingga dibutuhkan tekstur tanah yang gembur untuk perkembangan umbinya, sedangkan wiwil atau pengurangan tunas dilakukan pada umur 4 bulan dengan mensisakan dua tunas yang pertumbuhannya normal. 8. Pengairan Pengairan secara intensif dilakukan hingga tanaman umur 4 – 5 bulan, dengan interval 1 bulan sekali. Untuk selanjutnya pengairan dapat dilakukan 1-2 bulan sekali atau tergantung pada kondisi tanah. 9. Pengendalian hama dan penyakit Hama utama pada tanaman ubikayu adalah tungau merah (Tetranychus urticae) , biasanya menyerang pada musim kemarau. Dapat dikendalikan dengan serbuk biji bengkuang 50 gr/ liter air, fumigasi dengan larutan belerang dicampur dengan larutan sabun juga efektif. Penyakit yang sering dijumpai adalah Xanthomonas manihotis (jenis bakteri) gejala serangan daun mengalamai bercak bercak seperti terkena air panas, dikendalikan dengan bakterisida dan penyakit bercak daun (Cercospora henningsii) menyerang daun yang sudah tua. 10. Panen Pemanenan sebaiknya dilakukan pada saat umur tanaman optimal 8-12 bulan sesuai dengan varietasnya. Pemanenan yang melampaui umur optimal akan mempengaruhi mutu karena meningkatnya kadar serat dan menurunnya kadar pati umbi. Cara panen dapat dilakukan dengan cara mencabut dengan tangan atau dengan bantuan alat pengungkit dari kayu atau bambu. (oleh Suwarno,SP/ Penyuluh Pertanian UPT BP Kecamatan Kalipare Kabupaten Malang Jawa Timur)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar