Senin, 03 Juni 2013

Musim Hujan Datang, Pupuk Menghilang

     Masuk musim penghujan, kelangkaan pupuk di Dusun Sukorejo, Desa Sukowilangun, Kecamatan Kalipare, mulai dikeluhkan petani. Pasalnya sejak beberapa minggu terakhir, pasokan pupuk di kawasan itu hampir tidak ada. Sedang para petani sudah mulai menyemai berbagai jenis benih tanaman di lahan tadah hujan (tadahan). Langkanya pupuk jenis orea dan ZA itu mulai dirasakan petani sejak hujan mulai turun. Mereka harus pontang-panting mencari ke luar desa. Sedangkan di kios resmi pupuk yang memasok pada Kelompok Tani (Poktan) Makmur II selalu terlambat. Bahkan lebih banyak kosongnya. Karena itu, Rokib, ketua Poktan Makmur II, minta agar masalah kelangkaan pupuk di wilayahnya segera diperhatikan. Kalau tidak, berbagai macam tanaman yang sudah mulai dilakukan penyemaian akan terancam gagal panen. “Kalau tidak ada pupuk jelas akan gagal panen. Sekarang waktu yang tepat untuk bercocok tanam,” kata Rokib saat dihubungi kemarin. Rokib menjelaskan, pada musim tanam kali ini, kebutuhan pupuk yang harus disiapkan mencapai 50 ton. Pupuk tersebut untuk memenuhi kebutuhan tanaman lebih dari 100 hektare. Kalau tidak segera ada tindakan dari pemerintah, petani tidak bisa mendapatkan hasil maksimal. Mengingat, pupuk yang didapat para petani sekarang ini hampir sebagian besar tidak bersubsidi. Kondisi itu membuat para petani sekarang mulai menggadaikan kendaraannya agar mendapatkan pupuk dengan harga mahal karena tidak bersubsidi. Karena itu, Rokib minta agar kios sebagai penyalur resmi Poktan Makmur II segera menyalurkan. Kalau memang tidak ada pasokan segera mengajukan kepada pemerintah. Agar pemerintah segera tanggap dan segera mendapat pasokan pupuk. Kadisperindag Pasar Kabupaten Malang Syakur Kullu mengatakan, tim pemantau pupuk dan pestisida (TPP) sudah turun langsung. Hasilnya, memang ada kecamatan yang jatah pupuknya sudah habis, tapi ada juga yang belum habis. Menurut dia, ini menjadi pemikiran tersendiri untuk mengevaluasi proses distribusinya. “Kami akan berkoordnasi dengan dinas pertanian untuk masalah ini,” ujarnya. Menurut dia, disperindag hanya bertugas mendistribusikan, sedangkan data kebutuhan pupuk di tiap kecamatan berdasarkan pemetaan dari dinas pertanian. Kepala Dinas Petanian Kabupaten Malang Purwanto menyampaikan, memang secara umum kebutuhan pupuk di Kabupaten Malang masih kurang. Dengan begitu wajar saja jika pada masa tertentu ada beberapa daerah yang kekurangan pupuk. Namun, untuk mendistribusikan pupuk di kecamatan yang berlebih ke daerah yang kurang harus ada aturan yang baru. “Karena untuk jatah pendistribusian pupuk bersubsidi di tiap kecamatan itu sudah sesuai dengan SK bupati,” jelasnya.

Menurut dia, jika ada keinginan untuk mendistribusikan daerah yang lebih, maka harus ada pengajuan baru lagi ke bupati. Untuk upaya tersebut juga membutuhkan proses yang tidak cepat.
Purwanto mengatakan, sistem distribusi tahun ini masih seperti itu. Tapi tahun 2009 nanti distribusi pupuk berdasarkan rencana definitif kebutuhan kelompok (RDKK) yang diusulkan dari masing-masing kecamatan. “Selain itu pendistribusiannya wajib lewat kelompok tani,” jelasnya. Dia yakin cara tersebut akan meminimalisasi munculnya persoalan distribusi pupuk tersebut. (bb/lid/war/radarmalang)

Penghijaun Kabupaten Pecahkan Rekor Muri

jalan-klampok
         Gerakan menanam pohon yang dilaksanakan secara serentak di Indonesia kemarin, juga dilakukan di Kabupaten Malang. Menariknya, acara yang digelar di Desa Tumpakrejo Kecamatan Kalipare kemarin berhasil memecahkan rekor MURI karena dihadiri lebih dari satu juta peserta. Banyaknya jumlah peserta itu, karena Sujud menginstruksikan kepada seluruh desa di Kabupaten Malang untuk memulai gerakan tanam pohon pada hari yang sama kemarin.

Sementara itu berdasarkan data dari Dinas Kehutanan Kabupaten Malang, hampir 80 persen hutan di Kabupaten Malang berstatus lahan kritis yang butuh penghijauan. Artinya hanya 30 persen dari luas keseluruhan Kabupaten Malang yang seluas 324 ribu hektare berstatus aman.
Bahkan, yang 80 persen kritis itu sangat berpotensi mengalami erosi atau tanah longsor akibat kikisan air hujan saat musim penghujan.
Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Malang Zen Achmad mengatakan, sejak tahun 1997 Pemkab Malang telah melakukan perbaikan lahan milik masyarakat. Sekitar 20 ribu hektare lahan milik non pemerintah itu berhasil di hijaukan sampai sekarang. ”Jadi masih ada pekerjaan rumah lahan non asset sekitar 15 ribu hektare yang kritis,” ucap Zen disela-sela acara kemarin.
Untuk seluruh lahan kritis tersebut, saat gerakan tanam pohon kemarin disediakan 1,2 juta bibit pohon. Semuanya ditanam dan disebar ke seluruh Kecamatan di Kabupaten Malang. Per Kecamatan akan mendapatkan 4250 batang pohon yang berupa bibit pohon buah atupun pohon kayu.
Diharapkan, dengan kesadaran warga Kabupaten Malang mau menanam pohon di petak pekarangan mereka, Zen memperkirakan sekitar 5-6 tahun kedepan permasalahan lahan kritis akan dapat teratasi.
Zen sendiri menyebutkan, dana sekitar Rp 400 Juta telah dianggarkan Dinas Kehutanan untuk mendukung perbaikan lahan kritis.

”Kami juga menyediakan 100 ribu batang pohon ekstra di tahun 2009,” imbuhnya. Dikatakannya pula, walaupun dana tersebut dianggap belum memadai namun Zen mengaku akan mengoptimalkan dana terutama di bidang tenaga teknis dan bantuan alat untuk mengatasi masalah lahan kritis.
Sementara itu penghargaan dari MURI kemarin diserahkan langsung oleh Manager MURI Paulus Pangka kepada Bupati Sujud Pribadi. ”Kami memberikan penghargaan atas jumlah peserta terbanyak dalam kegiatan Kerja Bakti Paling Mantab,” ujar Paulus Pangka dalam sambutannya sesaat sebelum menyerahkan penghargaan kepada Sujud.(mp1/adv/eno)
(Redaksi/malangpost)

Minggu, 02 Juni 2013

Budidaya Ubikayu Cara Desa Sukowilangun


     


    Ubi kayu atau ketela pohon dapat dimanfaatkan untuk keperluan pangan, pakan maupun bahan dasar industri. Hingga kini produktivitasnya masih tergolong rendah, yaitu sekitar 20 ton per hektar.Dari segi teknis produksi, penyebab penting atas rendahnya penyebab hasil produksi ubi kayu di tingkat petani adalah terbatasnya penggunaan varietas unggul, kurangnya penggunaan pupuk organik maupun an organik serta penempatan status ubi kayu sebagai bukan tanaman utama. Di desa Sukowilangun ubikayu dapat menghasilkan rata rata 80 ton per hektar ubi segar yang dipasarkan untuk industri tapioka dan sudah menembus pasar Surabaya secara kontinyu dikirim mingguan sepanjang tahun , sehingga dapat diperoleh harga yang tinggi (Rp 1.300,-/ kg bulan Januari 2012). Saat ini pengembangan areal seluas 600 ha yang bersaing ketat dengan tanaman tebu. Sehubungan dengan hal hal tersebut diatas, maka upaya peningkatan produksi ubi kayu perlu mendapatkan perhatian dari semua pihak.

TEKNOLOGI PRODUKSI UBI KAYU 




Ubi kayu untuk memperoleh hasil yang optimal sebaiknya ditanam secara monokultur karena tanaman ubi kayu pada fase pertumbuhan awal umur 5 – 10 minggu tidak mampu berkompetisi dengan gulma, sehingga pada periode kritis ini tanaman harus bebas dari gulma. 1. Penyiapan stek a. Stek diambil bagian tengah dari tanaman yang berumur tua 8-10 bulan atau 10-12 bulan sesuai varietas. b. Batang dapat digunakan stek apabila masa penyimpanannya kurang dari 30 hari setelah panen, atau pada kondisi batang masih segar. c. Panjang stek optimum adalah 20 – 25 cm, gunakan gergaji untuk memotong. d. Sebelum tanam stek dapat diperlakukan dengan insektisida atau fungisida untuk mencegah serangan hama penyakit. 2. Varietas a. Cecek Hijau , umur genjah (7 -10 bulan) kadar HCN ≥ 100 ppm, provitas 80 ton/ hektar. b. Sembung, umur dalam (12 bulan) kadar HCN ≥ 100 ppm, provitas 100 ton/ hektar. 3. Pengolalahan tanah Pengolahan tanah dapat menggunakan bajak atau dicangkul kemudian dibentuk guludan dengan jarak antar guludan 125 cm tinggi 40 cm searah kontur bila pada tanah dengan topografi miring, waktu pengolahan disesuaikan dengan memperkirakan kapan ubi kayu dipanen. 4. Penanaman a. Stek yang sudah siap ditanam dengan posisi tegak, dengan 1/4 bagian berada dibawah permukaan tanah. b. Jarak tanam yang digunakan 125 x 100 cm dalam guludan 5. Pemupukan a. Pupuk kandang diberikan pada saat pembuatan guludan 5-10 ton/ ha. b. Pupuk dasar diberikan umur 1 bulan, dengan ditugalkan pada jarak 10 -15 cm dari pangkal tanaman (100 kg Urea; 100 kg SP 36; 50 kg KCl per ha) atau 200 kg phonska. c. Pupuk ke dua diberikan pada umur 3-4 bulan setelah tanam dengan dosis 200 kg phonska. 6. Penyiangan Penyiangan dilakukan untuk menghilangkan gulma pada pase kritis yaitu 4 minggu dan 8 minggu setelah tanam, apabila pada fase tersebut tidak dilakukan penyiangan akan menurunkan hasil sampai 70%. 7. Pembubunan dan wiwil Pembubunan dilakukan untuk menggemburkan tanah. Pembubunan dilakukan pada umur 2-4 bulan pada umur ini tanaman ubikayu mulai melakukan pembentukan umbi. Sehingga dibutuhkan tekstur tanah yang gembur untuk perkembangan umbinya, sedangkan wiwil atau pengurangan tunas dilakukan pada umur 4 bulan dengan mensisakan dua tunas yang pertumbuhannya normal. 8. Pengairan Pengairan secara intensif dilakukan hingga tanaman umur 4 – 5 bulan, dengan interval 1 bulan sekali. Untuk selanjutnya pengairan dapat dilakukan 1-2 bulan sekali atau tergantung pada kondisi tanah. 9. Pengendalian hama dan penyakit Hama utama pada tanaman ubikayu adalah tungau merah (Tetranychus urticae) , biasanya menyerang pada musim kemarau. Dapat dikendalikan dengan serbuk biji bengkuang 50 gr/ liter air, fumigasi dengan larutan belerang dicampur dengan larutan sabun juga efektif. Penyakit yang sering dijumpai adalah Xanthomonas manihotis (jenis bakteri) gejala serangan daun mengalamai bercak bercak seperti terkena air panas, dikendalikan dengan bakterisida dan penyakit bercak daun (Cercospora henningsii) menyerang daun yang sudah tua. 10. Panen Pemanenan sebaiknya dilakukan pada saat umur tanaman optimal 8-12 bulan sesuai dengan varietasnya. Pemanenan yang melampaui umur optimal akan mempengaruhi mutu karena meningkatnya kadar serat dan menurunnya kadar pati umbi. Cara panen dapat dilakukan dengan cara mencabut dengan tangan atau dengan bantuan alat pengungkit dari kayu atau bambu. (oleh Suwarno,SP/ Penyuluh Pertanian UPT BP Kecamatan Kalipare Kabupaten Malang Jawa Timur)

Sejarah Peninggalan Desa Arjowilangun


Gapura pintu masuk desa Arjowilangun
    Desa Arjowilangun merupakan salah satu desa di kecamatan Kalipare yang berbatasan dengan wilayah Kabupaten Blitar yang bisa di akses dari perempatan Peteng belok ke arah barat untuk masuk ke desa Arjowilangun dari pintu sebelah timur. Wilayah desa  Arjowilangun terbagi atas lima dukuh dan tiga dusun bagian, yaitu Barisan, Panggang Lele, Lotekol, Lodalem, Duren, Bonsari, Dong Dampar dan Bengkok. Arjowilangun merupakan desa termaju dan termoderen di antara desa – desa lainnya di kecamatan Kalipare. Desa ini penyumbang Tenaga Kerja Indonesia luar negeri terbesar di kecamatan Kalipare sebagai pahlawan devisa negara. Pusat perekonomian desa Arjowilangun berada di dusun Lodalem dan dusun Panggang Lele karena kedua dusun tersebut adalah pusat pasar di Arjowilangun dan Barisan sebagai ibukotanya dengan di penuhi banyak pertokoan yang maju. Desa Arjowilangun juga menyimpan beberapa peninggalan sejarah seperti keris, tongkat, pecut atau cambuk dan masih banyak yang lainnya, yang kini di simpan di padepokan atau sanggar Eyang Demang Merthowijoyo yang berada di dukuh Panggang Lele. Desa ini juga merupakan salah satu desa yang setiap tahunnya selalu mengadakan suatu festival atau upacara adat tahunan yang unik dan menarik yang biasa disebut Bersihdeso yang bertujuan untuk memperingati para leluhur pendiri desa Arjowilangun, yang babad alas Arjowilangun. Biasanya acara ini diadakan hari jumat pahing bulan Selo tahun Jawa atau Dzulhijjah tahun islam. Acara ini dimulai dengan acara napak tilas untuk mengenang jejak para leluhur, marathon dan arak – arakan mbah Leang Leong. Selain itu juga ada hiburan orkes melayu, parade band, kuda lumping, pasar murah dan masih banyak lagi yang lainnya.

Budidaya karamba ikan Mujaer



Kerramba Ikan Kalipare
     Karamba ikan yang di sini lazim disebut kerambak adalah sebuah sistem pemeliharaan ikan di air tawar dengan menggunakan jaring terapung yang memanfaatkan air di bendungan Sutami dengan rancangan kontruksi tertentu sehingga mudah dikendalikan untuk mengikuti pasang surutnya air. Budidaya ikan dengan menggunakan karamba adalah salah satu mata pencaharian warga desa Sukowilangun dan warga desa Kalipare bagian utara yang berbatasan langsung dengan sungai brantas dalam mendatangkan penghasilan yang cukup bagus karena tidak memerlukan biaya yang terlalu besar jika dibandingkan dengan keuntungan yang besar ketika selesai panen raya. Para petani  karamba di sini mulai menabur benih ikan selama dalam masa pemeliharaan tiga bulan, setelah itu mereka mulai memanen sedikit demi sedikit untuk melayani para pembeli yang datang dari berbagai desa sekitar. Setelah itu mereka akan melakukan panen raya dengan memanen semua ikan yang ada di dalam karambanya untuk dikirim keluar daerah yang disalurkan oleh para pedagang ikan yang datang dari berbagai daerah, selanjutnya para petani karamba mempersiapkan karambanya untuk ditaburi benih ikan berikutnya.
Kantor Desa Kalipare di dukuh Krajan
Selain ikan mujaer, para petani karamba di Kalipare juga memelihara ikan jenis lainnya seperti ikan lele, tombro, gurame, bandeng dan berbagai jenis ikan lainnya yang berfungsi sebagai lauk pauk. Produksi ikan karamba warga ini mampu menyuplai kebutuhan ikan para konsumen mulai dari kota Blitar, Malang hingga Surabaya. Selain mendatangkan keuntungan yang bagus bagi para petani karamba di sepanjang sungai brantas Karangkates, budidaya ikan sistem karamba ini juga mendatangkan keuntungan yang besar bagi para produsen dan pedagang pakan ternak karena mereka bisa meningkatkan produksinya dan bisa memastikan bahwa akan habis terjual kepada para petani karamba di sepanjang sungai brantas, bendungan Lahor dan Sengguruh.

Sengon Peningkat Ekonomi Kalipare





     Warga kalipare sangat gemar menanam kayu sengon di ladangnya karena pohon ini dinilai memiliki pertumbuhan yang cepat sehingga bisa segera mendatangkan keuntungan jika dibandingkan dengan tanaman keras lainnya. Selain bertani sengon, warga Kalipare juga banyak yang bertani tebu seperti areal perkebunan tebu yang membentang luas di sepanjang jalan mulai dusun Kopral, Sukorejo yang biasa disebut Rekesan, Kaliasem hingga desa Kalipare, belum lagi perkebunan tebu di desa lainnya. Wilayah Kalipare terletak dilereng gunung Kendeng yang tergolong dataran tinggi sehingga pengairan dengan menggunakan sistem irigasi tidak mampu menjangkau areal pertanian disini yang mengakibatkan pertanian di sini sebagai pertanian lahan kering yang lazim disebut tadah udan.

Sekolah Privat di Dusun Sukowilangun




Para siswa TK seluruh Kalipare Raya sedang mengikuti suatu acara
    Keberadaan sekolah privat atau tempat kursus yang banyak dijumpai di sini sangat membantu para siswa maupun putra putri Kalipare untuk mendapatkan pendidikan tambahan dalam meningkatkan prestasi mereka hingga maksimal, seperti kursus komputer, bahasa inggris dan juga materi sekolah lainnya. Salah satu sekolah privat yang terkenal disini adalah Mahardika English Course yang melayani kursus komputer dan berbagai mata pelajaran di sekolah yang terletak di dusun Tawang Sukowilangun yang sebelumnya bertempat di kecamatan Sumberpucung. Di lengkapi dengan banyaknya sekolah yang berkualitas dan didukung oleh para guru yang handal mulai dari Play group hingga sekolah menengah atas yang terdapat wilayah Kalipare sangat memudahkan para generasi muda dalam mendapatkan pendidikan yang matang.